Cara membuat disinfektan sendiri tips oleh Pangerantoto4

by -236 views

 

Di tengah wabah virus corona yang melanda dunia, termasuk Indonesia saat ini, masyarakat diimbau untuk melakukan perlindungan diri dan pencegahan agar tak tertular virus corona. Salah satunya dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggal. Cara yang tengah dilakukan secara mandiri oleh masyarakat saat ini adalah mensterilkan lingkungan rumahnya dengan membersihkan berbagai perabotan atau lokasi yang kerap diakses seluruh penghuni rumah dengan disinfektan. Jika sebelumnya masyarakat antusias membuat hand sanitizer sendiri, kini mulai marak pula membuat disinfektan. Berbagai cara dan formula membuat disinfektan pun beredar di grup percakapan Whatsapp dan media sosial. Ada yang menggunakan cairan pemutih pakaian, ada pula yang menggunakan campuran pembersih lantai.  Benarkah cara seperti itu? Apa yang harus diperhatikan jika ingin membuat disinfektan sendiri?  Peneliti Kimia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Joddy Arya Laksmono membenarkan bahwa cairan disinfektan bisa dibuat dengan campuran cairan pemutih pakaian atau pembersih lantai.  "Berdasarkan anjuran dari WHO, bahwa bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai desinfektan adalah etanol dan sodium hipoklorit (pemutih). Kebanyakan larutan bahan pemutih rumah tangga mengandung 5 persen sodium hipoklorit (50000 bpja klorin)," kata Joddy, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (21/3/2020). Joddy menyebutkan, cairan pemutih pakaian merupakan bahan yang paling kuat dan efektif.  Akan tetapi, bahan ini mudah dinonaktifkan jika terdapat bahan organik. Bahan aktif yang ada di dalam cairan pemutih yaitu sodium hipoklorit yang memiliki beragam fungsi. "Efektif membunuh bakteri, jamur, dan virus, termasuk virus influenza," kata dia.  Bagaimana cara membuatnya? Seperti disebutkan di atas, pembuatan cairan disinfektan bisa dilakukan dengan mencampur air dan cairan pemutih pakaian atau pembersih lantai. Bagaimana caranya? Berbahan campuran cairan pemutih Joddy menyebutkan, cairan pemutih pakaian yang biasa digunakan sehari-hari bisa dilarutkan dengan air biasa. Perbandingannya, 1:100.  Joddy mengingatkan pentingnya memperhatikan takaran perbandingan penggunaan cairan pemutih dan air. Diupayakan, konsentrasi sodium hipoklorit yang ada sudah tidak terlalu tinggi. "Sesuaikan perbandingan bahan pemutih dan air menurut kebutuhan untuk mencapai konsentrasi sodium hipoklorit yang sesuai. Misalnya, untuk preparat bahan pemutih yang mengandung 2,5 persen sodium hipoklorit, gunakan bahan pemutih dua kali lebih banyak yaitu, 2 bagian bahan pemutih untuk 98 bagian air," jelas Joddy.  Berbahan campuran cairan pembersih lantai Sementara itu, untuk cairan pembersih lantai, kandungan bahan aktifnya lebih rendah dari cairan pemutih. Oleh karena itu, perhatikan komposisi campurannya. Ia mencontohkan, cairan pembersih lantai ada yang sebagian besar kandungannya adalah pine oil. "Dari beberapa sumber literatur menyatakan bahwa pine oil dapat digunakan juga sebagai disinfektan. Hanya, daya aktifnya lebih rendah dibandingkan dengan bahan pemutih seperti anjuran dari WHO," ujar Joddy. Agar tidak melemahkan daya aktifnya, untuk membuat disinfektan dari bahan ini disarankan perbandingannya tidak jauh berbeda antara cairan pemberiih dan air. "Anjurannya secara sederhana adalah sekitar 10 tutup botol cairan pembersih lantai diencerkan dengan air 1 liter. Hal tersebut untuk mendapatkan konsentrasi minimal 0,5 persen bahan aktif yakni monoterpen agar efektif sebagai desinfektan," jelas ia. Untuk mengatasi bau karbol yang terlalu kuat dan kadang tidak disukai oleh sebagian orang, Joddy menyarankan mencampurkan bahan pewangi alami lain. "Bagi yang sensitif terhadap bau karbol dapat ditambahkan dengan bahan pewangi lainnya yang alami misalnya sereh. Jadi air yang digunakan untuk mengencerkan adalah air hasil rebusan sereh," kata Joddy.

 

Di tengah wabah virus corona yang melanda dunia, termasuk Indonesia saat ini, masyarakat diimbau untuk melakukan perlindungan diri dan pencegahan agar tak tertular virus corona. Salah satunya dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggal. Cara yang tengah dilakukan secara mandiri oleh masyarakat saat ini adalah mensterilkan lingkungan rumahnya dengan membersihkan berbagai perabotan atau lokasi yang kerap diakses seluruh penghuni rumah dengan disinfektan. Jika sebelumnya masyarakat antusias membuat hand sanitizer sendiri, kini mulai marak pula membuat disinfektan. Berbagai cara dan formula membuat disinfektan pun beredar di grup percakapan Whatsapp dan media sosial. Ada yang menggunakan cairan pemutih pakaian, ada pula yang menggunakan campuran pembersih lantai.

Benarkah cara seperti itu? Apa yang harus diperhatikan jika ingin membuat disinfektan sendiri?

Peneliti Kimia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Joddy Arya Laksmono membenarkan bahwa cairan disinfektan bisa dibuat dengan campuran cairan pemutih pakaian atau pembersih lantai. “Berdasarkan anjuran dari WHO, bahwa bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai desinfektan adalah etanol dan sodium hipoklorit (pemutih). Kebanyakan larutan bahan pemutih rumah tangga mengandung 5 persen sodium hipoklorit (50000 bpja klorin),” kata Joddy, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (21/3/2020). Joddy menyebutkan, cairan pemutih pakaian merupakan bahan yang paling kuat dan efektif.

Akan tetapi, bahan ini mudah dinonaktifkan jika terdapat bahan organik. Bahan aktif yang ada di dalam cairan pemutih yaitu sodium hipoklorit yang memiliki beragam fungsi. “Efektif membunuh bakteri, jamur, dan virus, termasuk virus influenza,” kata dia.

Bagaimana cara membuatnya? Seperti disebutkan di atas, pembuatan cairan disinfektan bisa dilakukan dengan mencampur air dan cairan pemutih pakaian atau pembersih lantai. Bagaimana caranya? Berbahan campuran cairan pemutih Joddy menyebutkan, cairan pemutih pakaian yang biasa digunakan sehari-hari bisa dilarutkan dengan air biasa. Perbandingannya, 1:100.

Joddy mengingatkan pentingnya memperhatikan takaran perbandingan penggunaan cairan pemutih dan air. Diupayakan, konsentrasi sodium hipoklorit yang ada sudah tidak terlalu tinggi. “Sesuaikan perbandingan bahan pemutih dan air menurut kebutuhan untuk mencapai konsentrasi sodium hipoklorit yang sesuai. Misalnya, untuk preparat bahan pemutih yang mengandung 2,5 persen sodium hipoklorit, gunakan bahan pemutih dua kali lebih banyak yaitu, 2 bagian bahan pemutih untuk 98 bagian air,” jelas Joddy.

Berbahan campuran cairan pembersih lantai Sementara itu, untuk cairan pembersih lantai, kandungan bahan aktifnya lebih rendah dari cairan pemutih. Oleh karena itu, perhatikan komposisi campurannya. Ia mencontohkan, cairan pembersih lantai ada yang sebagian besar kandungannya adalah pine oil. “Dari beberapa sumber literatur menyatakan bahwa pine oil dapat digunakan juga sebagai disinfektan. Hanya, daya aktifnya lebih rendah dibandingkan dengan bahan pemutih seperti anjuran dari WHO,” ujar Joddy. Agar tidak melemahkan daya aktifnya, untuk membuat disinfektan dari bahan ini disarankan perbandingannya tidak jauh berbeda antara cairan pemberiih dan air. “Anjurannya secara sederhana adalah sekitar 10 tutup botol cairan pembersih lantai diencerkan dengan air 1 liter. Hal tersebut untuk mendapatkan konsentrasi minimal 0,5 persen bahan aktif yakni monoterpen agar efektif sebagai desinfektan,” jelas ia. Untuk mengatasi bau karbol yang terlalu kuat dan kadang tidak disukai oleh sebagian orang, Joddy menyarankan mencampurkan bahan pewangi alami lain. “Bagi yang sensitif terhadap bau karbol dapat ditambahkan dengan bahan pewangi lainnya yang alami misalnya sereh. Jadi air yang digunakan untuk mengencerkan adalah air hasil rebusan sereh,” kata Joddy.